Pelajar SMP Negeri 1 Kebumen Tewas Tabrak Truk

Kondisi korban setelah di evakuasi di RSUD Kebumen

KEBUMEN – Rabu (21/11)  sekitar pukul 21.00 wib terjadi kecelakaan lalu lintas di Jl. Sarbini tepatnya sebelah timur Simp.3 Cemara Bumirejo Kebumen yang mengakibatkan korban jiwa, antara Sepeda motor ( Spm ) Yamaha No.Pol. AA-6102-AW dengan Truk Mitsubishi No.Pol.  K-1807-KW. 

Kondisi TKP sesaat setelah kecelakaan

Berdasarkan hasil olah TKP dan keterangan para saksi di lokasi kejadian kronologi kecelakaan bermula saat Spm Yamaha  melaju dari arah barat ke timur, sampai di TKP karena cuaca gelap & hujan Spm Yamaha  menabrak body belakang Truk  yang sedang berhenti ( mogok ) di badan jalan sebelah kiri tanpa adanya tanda peringatan. Akibat kecelakaan ini Pengendara Spm Yamaha yang diketahui bernama ADAM (14), pelajar SMP Negeri 1 Kebumen, warga jl. Tentara Pelajar Kebumen tewas di TKP karena mengalami cidera kepala berat.

Kondisi motor korban

Kasat Lantas Kebumen AKP Catur C. Wibowo mengatakan kasus kecelakaan ini sudah ditangani oleh Unit Laka Sat Lantas Polres Kebumen dan barang bukti kendaraan sudah diamankan di Sat Lantas Polres Kebumen, sedangkan pengemudi Truk berikut kenetnya sudah dimintai keterangan oleh petugas dari Unit Laka Sat lantas Polres Kebumen.

AKP Catur C. Wibowo juga menambahkan agar para pengendara kendaraan agar memasang tanda peringatan jika kendaraannya mogok serta berhati – hati saat mengendarai kendaraan terutama saat hujan sehingga kasus kecelakaan seperti ini tidak terjadi lagi.

5 responses to “Pelajar SMP Negeri 1 Kebumen Tewas Tabrak Truk

  1. Mari simulasikan saja, kalo lewat di jalan itu, kita tak bisa memacu kendaraan melebihi 40 km/jam dan ybs sudah paham dengannya. Sementara koefisien gesekan kinetis antara ban sepeda motor dengan aspal jalan raya rata-rata bernilai 0,4. Sehingga jika ybs melaju dengan kecepatan 40 km/jam dan segera mengerem penuh begitu melihat halangan di depan, butuh jarak 16 meter dari titik awal pengereman hingga kendaraan berhenti. Umumnya manusia bisa mendeteksi halangan di depan dalam kondisi berkendara sepeda motor ketika jaraknya dengan halangan sekitar 50 meter. Jika jalanan kering, pengereman akan efektif dan ybs dapat berhenti sebelum mencapai halangan.

    Selanjutnya, mari dilihat pada saat jalanan basah, apalagi ada genangan air. Ini mengubah nilai koefisien gesekan kinetis aspal dan ban sepeda menjadi di bawah 0,1. So dengan nilai 0,1 saja, maka pada kecepatan 40 km/jam dibutuhkan jarak tempuh minimal 63 meter untuk berhenti. Sementara halangan hanya sejauh 50 meter ke depan. Sehingga jangankan ybs, kita pun akan gelagapan dalam situasi seperti ini.

  2. – Ybs mengenakan helm standar dengan tali terpasang sepenuhnya.
    – Ybs mengalami kecelakaan saat baru pulang dari mengikuti bimbingan belajar tambahan yang jadwalnya tak manusiawi (karena berlangsung malam hari) dan masih ditambah dengan belajar bersama karena esoknya ada tes dan dua minggu lagi bakal mengikuti ujian semester sebagai persiapan akhir menjelang UN SMP pada Maret 2013 mendatang. So kejadian malam itu bukan dalam rangka gagah-gagahan ataupun ngebut memacu kendaraan melebihi ambang batas kecepatan
    – Ybs, meski terhitung masih SMP dan belum memiliki SIM, sudah terhitung mahir mengendarai sepeda motor. Dalam beberapa test drive di tempat khusus, ybs bahkan sudah menguasai teknik mengemudikan kendaraan roda empat, meski tak pernah diijinkan membawanya turun ke jalan. Namun ybs amat jarang menggunakan sepeda motor dalam urusan kesehariannya. Kecuali dalam keadaan amat mendesak, ybs baru menggunakan sepeda motor, seperti pada malam kejadian.
    – Ybs sudah amat memahami kalo lokasi dimana kecelakaan itu sudah memang gelap kalo malam. Namun di situ ada pasar darurat yang ramai di kala siang dan malam, sehingga siapapun warga Kebumen yang melintas lokasi itu bakal melambatkan kendaraannya.
    – Saat kejadian lokasi itu diguyur hujan deras dan ada genangan air lumayan tinggi di bahu jalan sisi utara (tempat kecelakaan terjadi). Jangankan ybs, kita saja yang ngakunya lebih dewasa dan lebih bisa menjaga diri pun bakal gelagapan jika saat memacu kendaraan mendadak dihadapan kita muncul halangan (truk mogok) yang tidak ada tanda-tandanya. Ada jejak pengereman di lokasi, namun jelas tak bakal maksimal karena ada genangan air.
    -Yang amat disayangkan, kecelakaan itu terjadi di hadapan banyak orang dan segera mereka meriung, menonton. Namun ybs tak segera ditolong meski tubuhnya tertindih sepeda motornya dan wajahnya terpuruk ke dalam kubangan air. Ada sekitar setengah jam korban dalam posisi demikian sebelum akhirnya keluarganya dan teman2nya berdatangan ke lokasi dan menangani sendiri ybs untuk dibawa ke RSUD Kebumen.
    – Lebih mengenaskan lagi, hanya 20 meter dari lokasi kecelakaan ada sebuah rumah sakit swasta, namun staf-stafnya bahkan ikut-ikutan menonton saja tanpa tergerak untuk berbuat sesuatu. Selain akibat cedera kepala berat, ada dugaan salah satu faktor pnyebab kematian ybs adalah tersumbatnya jalan nafas (karena hidung dan mulut terendam dalam air).
    – Sebuah tragedi, dalam manajemen penanganan bencana, tak pernah disebabkan oleh faktor tunggal. Betul ybs belum memiliki SIM, meski di sisi lain kita harus mempertanyakan juga, dengan situasi seperti di Indonesia tak ada jaminan orang yang telah memiliki SIM identik dengan telah memiliki kualifikasi tertentu dalam mengemudikan sepeda motor/mobil, apalagi jika SIM-nya hasil nembak. Namun ybs dikenal keluarga dan sahabat2nya amat berhati-hati dalam segala hal, termasuk dalam berkemudi. Faktor ada truk mogok yang tak memasang tanda-tanda pengaman juga menjadi kontributor. Apalagi belakangan diketahui kalo truk tersebut memang terbiasa parkir di sana karena pemiliknya (yang tinggal di dekat lokasi kecelakaan) tidak memiliki lahan untuk memarkir truknya, sehingga setiap malam truk itu diparkir di pinggir jalan. Faktor penerangan jalan yang minim juga menjadi kontributor. Demikian juga soal drainase yang buruk (sehingga air menggenang di jalan).
    – Pada akhirnya, sebelum kita memvonis ybs dalam status tertentu (yang itupun tak banyak gunanya karena ybs sudah wafat), harus dilihat lebih dulu bagaimana situasi dan kondisi di sekitar ruang-waktu kecelakaan tersebut. Tak bisa kita main gebyah uyah (menyama-ratakan), karena fakta2 yang melingkupi kecelakaan yang dialami ybs berbeda dengan gambaran umum kita tentang laka lantas dengan korban remaja

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s